Hari itu Jean bisa dikatakan sedang galau, bagaimana tidak hari itu pacarnya Lee tidak bisa meneleponnya karena sesuatu alasan yang ga jelas, padahal hari ini merupakan hari jadi mereka. Dengan segala kegalauan yang Jean miliki, matanya mengawang memandang segerombolan pohon yang bergoyang. "Syurr.. Syurr"
"Jean? Kenape bu?"
Mendengar suara yang memanggilnya, Jean berusaha memfokuskan pikirannya dan menatap ke arah suara yang memanggilnya.
"Gpp kok.. Blm balik kau?"
"Belum" jawab suara tersebut yang ternyata merupakan suara Barry. "Blm dijemput gua. Nah elu ngapain bengong-bengong gitu?"
"Tumben dijemput biasanya juga balik ndiri. Kepo kali kadang kau ini.." jawab Jean dengan muka datar dan bernadakan dialeg batak.
"Ga maksa, seiklasnya aja lo cerita.." Barry dengan santainya memandang muka Jean yang lama kelamaan memerah. Jean yang sedang galau pun kemudian menganggap Barry sebagai sesosok orang yang sangat perhatian kepadanya, meskipun begitu dia belum berani cerita tentang masalahnya dan pacarnya. Ia berusaha menyembunyikan dalam pandangan matanya yang lama kelamaan menatap ke bawah.
"Belum iklas gue cerita.." Jean berkata dengan suara kecil namun terdengar oleh Barry..
"Ok kalau belum iklas.."
Begitulah awal-awal obrolan panjang Barry dan Jean sebelum akhirnya Barry memutuskan untuk pulang sendiri karena supirnya yang terlalu lama menjemput. Jean pun bergegas untuk pulang, hatinya sedikit terhibur setelah obrolan panjang yang dilakukannya bersama Barry hingga sore.
Jean sekarang tidak terlalu memikirkan lagi masalah anniversary-nya dengan Lee. Bahkan sedikit pun bayangan tentang Lee tak lagi ada di kepalanya. Barry, seseorang yang jauh lebih bisa menghiburnya, bahkan disaat ia tak tahu harus bercerita pada siapa tentang masalahnya. Memang menjelang hari anniversary-nya, Jean sempat kesal dengan Lee yang berfoto mesra dengan seorang cewek. Yang membuat Jean jauh lebih kesal adalah ketika foto itu di post di Facebook. Meski pun Jean tau bahwa foto itu di tag oleh teman Lee tapi tetap saja Jean kesal. Bahkan dia dan Lee pun tak pernah semesra itu berfoto bersama.
Hingga malam menjelang, Lee tak kunjung memberinya ucapan, apalagi hadiah spesial. Padahal biasanya Lee selalu ingat hari anniversary mereka bahkan selalu memberikan surprise bagi Jean. Jean pun tak habis pikir, walaupun ada masalah itu tapi Lee sudah meng-untag foto tersebut dan Jean pun sudah memaafkannya. Lalu kenapa sampai malam hari Lee tak memberikan ucapan apapun? Lupa? Mana mungkin.. Punya yang baru? Tapi... Banyak kemungkinan-kemungkinan buruk yang berkecamuk di pikran Jean, hingga akhirnya dia tertidur pulas di kamarnya..
Brac Gonz
Senin, 07 Maret 2011
Minggu, 06 Maret 2011
Ga Selesai Ngerjain
Sekedar cerita aja, hari ini merupakan tanggal di mana gue masih berada dalam minggu ulangan mid yang memaksa gue harus belajar. Walaupun itu sangat membosankan tapi gue berusaha fokus. Tak disangka meskipun sudah belajar dengan main-main dan unlimited texting, hari ini gue justru tidak bisa mengerjakan ulangan bahasa Inggris dengan baik. Tidak selesai lagi -___-. Satu part tepatnya di bagian essay di mana murid diminta untuk meng-underline passive voice, gue hanya meng-underline satu kalimat.Padahal disuruhnya 5. Dengan segala keputus-asaan gue yang sangat mendalam gue berusaha kembali membuka mata dan sadar bahwa apa yang kita kerjakan dengan main-main dan tidak serius maka hasilnya juga tidak akan memuaskan dan hal yang sudah berlalu tidak dapat diperbaiki lagi. Ulangan sejarah sih bisa-bisa aja walaupun dijawabnya ya begitu nomor terakhir agak ngasal.
Hari bertambah sial ketika air minum gue tumpah dan mengenai hp hingga tidak bisa nyala lagi. Udah ulangan ga bisa, hp rusak, ga ada makanan. Bener-bener hari yang peeep.. Bahkan sampai gue ngepost ini pun hp gue masih belum bisa nyala.. hooo.. God bless me and my hp :(
Hari bertambah sial ketika air minum gue tumpah dan mengenai hp hingga tidak bisa nyala lagi. Udah ulangan ga bisa, hp rusak, ga ada makanan. Bener-bener hari yang peeep.. Bahkan sampai gue ngepost ini pun hp gue masih belum bisa nyala.. hooo.. God bless me and my hp :(
Sabtu, 25 September 2010
Prejudge / Praduga dan Kaitannya dengan Kegagalan
Tahukah kita tentang informasi yang cukup penting ini? Manusia sudah lama mejadi korban dari emosi yang mereka miliki, sebelum mereka mampu berpikir dengan jernih. Emosi ini dapat berupa amarah, frustsi, kesenangan, takut, dsb. Pernahkah kita mencoba berpikir dengan pikiran yang telah dianugerahkan Tuhan pada kita dan bukan dengan emosi yang sifatnya hanya sementara? Emosi menyebabkan kita menjadi mudah untuk dipengaruhi dan tak terelakkan lagi bahwa praduga kita akan memimpin, membentuk, dan membelokkan pola pikir yang kita miliki.
Praduga berasal dari kata Prejudice/ Prejudge yang artinya sudah mempunyai dugaan sebelum mengetahui fakta sebenarnya. Berpikir secara ekstrem adalah berpikir secara emosional dan telah mempunyai praduga sebelum mengetahui fakta. Misalnya, kita pernah gagal dalam melakukan suatu eksperimen tertentu, kemudian kita menghakimi pikiran kita sendiri dengan berkata,” Saya tidak akan pernah berhasil dalam melakukannya.” Di samping ini merupakan pikiran yang negatif, ini juga merupakan gaya berpikir ekstrem. Seseorang yang biasanya mempunyai praduga sebelum ia melakukan sesuatu akan mengalami kekhawatiran sepanjang hidupnya.
Menurut riset biologi, alasan orang yang mempunyai praduga yakin bahwa mereka tidak bisa melakukan sesuatu adalah mereka tidak memahami bahwa otak selalu sukses lewat percobaan berkelanjutan, mereka keliru dengan menafsirkan kegagalan awal sebagai ketidakmampuan fundamental dan sebagai ukuran yang benar dari bakat mereka. Oleh karena itu mereka lebih memilih untuk mengubur talenta itu dalam-dalam dan tidak mengembangkannya, padahal mungkin talenta itu sebenarnya dapat berkembang subur secara alami. Praduga juga dapat disebabkan karena kurangnya rasa syukur atas kebesaran Tuhan YME.
Dalam kenyataan hidup sehari-hari, orang lebih siap untuk mengenali orang lain menggunakan motif yang keliru untuk tindakan atau keyakinan mereka ketimbang orang itu sendiri yang melakukannya. Realisasinya bahwa orang yang mempunyai praduga lebih mudah untuk dipengaruhi dan cenderung akan melakukan kehendak mereka sendiri walaupun sebenarnya itu merupakan kehendak salah. Padahal kalau ia tidak mempunyai praduga sebelumnya, kehendak yang ia miliki mungkin akan membawa mereka ke pemikiran yang lebih jernih dan efektif.
Bertahun-tahun orang berpendapat bahwa fakta tidak berarti keadaannya. Maksudnya adalah, walaupun fakta itu benar, toh itu tidak dapat mengubah apapun dalam hidup kita. Bersikap malas dan cenderung untuk mencari jalan mudah tanpa berpikir tentang kebenarannya merupakan ciri manusia di jaman sekarang ini. Robert Leavitt pernah berkata, “Orang tidak meminta fakta untuk membuat suatu keputusan penting dalam hidupnya. Melainkan mereka lebih suka mempunyai satu emosi yang baik, yang dapat memuaskan jiwa mereka ketimbang selusin fakta yang disediakan.”
Kesimpulannya Praduga hanya membawa kita dalam kekhawatiran, kekecewaan dan ketakutan yang mendalam, karena menginginkan sesuatu dianggap benar tanpa peduli fakta yang sebenarnya terjadi.
Nb:
Kegagalan adalah suatu awal dari keberhasilan yang tertunda. Walaupun terkadang susah menerima kenyataan bahwa kita kalah atau gagal. Seperti kata orang bijak, "Pengalaman adalah guru yang terbaik bagi kita untuk bisa menghadapi tantangan masa depan." Itulah sebabnya kita perlu mencari pengalaman dengan mencoba hal-hal baru tanpa takut gagal.
Langganan:
Komentar (Atom)