Sabtu, 25 September 2010

Prejudge / Praduga dan Kaitannya dengan Kegagalan

Tahukah kita tentang informasi yang cukup penting ini? Manusia sudah lama mejadi korban dari emosi yang mereka miliki, sebelum mereka mampu berpikir dengan jernih. Emosi ini dapat berupa amarah, frustsi, kesenangan, takut, dsb. Pernahkah kita mencoba berpikir dengan pikiran yang telah dianugerahkan Tuhan pada kita dan bukan dengan emosi yang sifatnya hanya sementara? Emosi menyebabkan kita menjadi mudah untuk dipengaruhi dan tak terelakkan lagi bahwa praduga kita akan memimpin, membentuk, dan membelokkan pola pikir yang kita miliki.
            Praduga berasal dari kata Prejudice/ Prejudge yang artinya sudah mempunyai dugaan sebelum mengetahui fakta sebenarnya. Berpikir secara ekstrem adalah berpikir secara emosional dan telah mempunyai praduga sebelum mengetahui fakta. Misalnya, kita pernah gagal dalam melakukan suatu eksperimen tertentu, kemudian kita menghakimi pikiran kita sendiri dengan berkata,” Saya tidak akan pernah berhasil dalam melakukannya.” Di samping ini merupakan pikiran yang negatif, ini juga merupakan gaya berpikir ekstrem. Seseorang yang biasanya mempunyai praduga sebelum ia melakukan sesuatu akan mengalami kekhawatiran sepanjang hidupnya.
            Menurut riset biologi, alasan orang yang mempunyai praduga yakin bahwa mereka tidak bisa melakukan sesuatu adalah mereka tidak memahami bahwa otak selalu sukses lewat percobaan berkelanjutan, mereka keliru dengan menafsirkan kegagalan awal sebagai ketidakmampuan fundamental dan sebagai ukuran yang benar dari bakat mereka. Oleh karena itu mereka lebih memilih untuk mengubur talenta itu dalam-dalam dan tidak mengembangkannya, padahal mungkin talenta itu sebenarnya dapat berkembang subur secara alami. Praduga juga dapat disebabkan karena kurangnya rasa syukur atas kebesaran Tuhan YME.
            Dalam kenyataan hidup sehari-hari, orang lebih siap untuk mengenali orang lain menggunakan motif yang keliru untuk tindakan atau keyakinan mereka ketimbang orang itu sendiri yang melakukannya. Realisasinya bahwa orang yang mempunyai praduga lebih mudah untuk dipengaruhi dan cenderung akan melakukan kehendak mereka sendiri walaupun sebenarnya itu merupakan kehendak salah. Padahal kalau ia tidak mempunyai praduga sebelumnya, kehendak yang ia miliki mungkin akan membawa mereka ke pemikiran yang lebih jernih dan efektif.
            Bertahun-tahun orang berpendapat bahwa fakta tidak berarti keadaannya. Maksudnya adalah, walaupun fakta itu benar, toh itu tidak dapat mengubah apapun dalam hidup kita. Bersikap malas dan cenderung untuk mencari jalan mudah tanpa berpikir tentang kebenarannya merupakan ciri manusia di jaman sekarang ini. Robert Leavitt pernah berkata, “Orang tidak meminta fakta untuk membuat suatu keputusan penting dalam hidupnya. Melainkan mereka lebih suka mempunyai satu emosi yang baik, yang dapat memuaskan jiwa mereka ketimbang selusin fakta yang disediakan.”
            Kesimpulannya Praduga hanya membawa kita dalam kekhawatiran, kekecewaan dan ketakutan yang mendalam, karena menginginkan sesuatu dianggap benar tanpa peduli fakta yang sebenarnya terjadi.

Nb: 
Kegagalan adalah suatu awal dari keberhasilan yang tertunda. Walaupun terkadang susah menerima kenyataan bahwa kita kalah atau gagal. Seperti kata orang bijak, "Pengalaman adalah guru yang terbaik bagi kita untuk bisa menghadapi tantangan masa depan." Itulah sebabnya kita perlu mencari pengalaman dengan mencoba hal-hal baru tanpa takut gagal.
Jakfm Radio
Gen Fm Radio